#39

Biografi KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)

Pertama kali belajar, Gus Dur belajar sedikit tentang kakeknya, KH Hasyim Asy&;ari. Di rumah bersama kakeknya, dia diajar untuk belajar dan membaca Alquran. Pada usia lima tahun ia fasih membaca Alquran. Ketika ayahnya pindah ke Jakarta, serta belajar formal di sekolah, Gus Dur mengikuti pelajaran privat Belanda. Gurunya bernama Willem Buhl, seorang Jerman yang masuk Islam, mengubah namanya menjadi Iskandar. Untuk menambah pelajaran bahasa Belanda, Buhl selalu menghadirkan musik klasik yang dinikmati orang dewasa. Ini adalah pertama kalinya Gu Dur telah dihubungi dengan dunia Barat dan dari sini Gus Dur mulai menarik dan mencintai musik klasik.

Setelah lulus di Sekolah Dasar, Gus Dur memenangkan Kompetisi Menulis Jakarta (menulis) dan mendapat hadiah dari pemerintah. Pengalaman ini menjelaskan bahwa Gus Dur telah mampu menerjemahkan gagasan / gagasannya ke dalam sebuah makalah. Oleh karena itu masuk akal bahwa di kemudian hari tulisan-tulisan Gus Dur membentuk berbagai media massa.

Setelah lulus SD, Gus Dur mengirim orang tuanya untuk belajar di Yogyakarta. Pada tahun 1953 ia masuk SMEP (First Secondary Economy) Gowongan, saat tinggal di pesantren Krapyak. Sekolah ini bahkan dikelola oleh Gereja Katolik Roma, namun sekolah ini sepenuhnya digunakan kurikulum sekuler. Di sekolah ini, Gus Dur pertama kali belajar bahasa Inggris. Setelah merasa terbatas pada kehidupan di dunia pesantren, dia akhirnya meminta untuk pindah ke kota dan tinggal di rumah Haji Junaidi, seorang pemimpin lokal Muhammadiyah dan orang-orang berpengaruh di SMEP. Kegiatan rutinnya, setelah sholat subuh, dikaji di KH Ma&;sum Krapyak, hari sekolah di SMEP, dan pada malam hari dia berdiskusi dengan Haji Junaidi dan anggota Muhammadiyah lainnya. 

Ketika dia menjadi murid pertama sekolah pertama, pembacaan hobinya sampai ke suatu tempat. Gus Dur, misalnya, didorong oleh tuannya untuk menguasai bahasa Inggris, jadi dalam satu sampai dua tahun Gus Dur menghabiskan beberapa buku dalam bahasa Inggris. Di antara buku-buku yang pernah ia baca adalah karya Ernest Hemingway, John Steinbach, dan William Faulkner. Selain itu, ia juga membaca karya Johan Huizinga, Andre Malraux, Ortega Y. Gasset, dan beberapa penulis Rusia, seperti Pushkin, Tolstoy, Dostoevsky dan Mikhail Sholokov. Gus Dur juga melahap beberapa karya Wiill Durant yang berjudul &;Kisah Civilazation&;. Selain belajar membaca buku bahasa Inggris, untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris mereka sekaligus menggali informasi, Gus Dur secara aktif mendengarkan siaran di Voice of America dan radio BBC London. Ketika mengetahui bahwa Gus Dur baik dalam bahasa Inggris, Pak Sumatri - seorang guru SMEP yang juga anggota Partai Komunis - memberi buku Lenin "What is To Be Done." Pada saat bersamaan, anak-anak memasuki masa remaja telah mengenal Das Kapital Karl Marx, filsafat Plato, Thales, dan sebagainya. Dari perspektif ini dengan jelas menggambarkan kekayaan informasi dan luasnya wawasan Gus Dur. dan seterusnya. Dari perspektif ini dengan jelas menggambarkan kekayaan informasi dan luasnya wawasan Gus Dur. dan seterusnya. Dari perspektif ini dengan jelas menggambarkan kekayaan informasi dan luasnya wawasan Gus Dur. 

Setelah itu dari SMEP Gus Dur terus belajar di Pesantren Tegarejo Magelang Jawa Tengah. Pesantren ini diangkat oleh KH Chudhari, seorang kiai humanis, saleh, dan terkasih. Kyai Chudhari adalah orang yang mengenalkan Gus Dur dengan ritus sufi dan menanamkan praktik ritual mistis. Di bawah bimbingan kyai juga, Gus Dur mulai berziarah ke makam suci orang-orang kudus di Jawa. Pada saat memasuki pesantren ini, Gus Dur membawa seluruh koleksi bukunya, yang membuat santri santri lainnya bersemangat. Saat ini Gus Dur telah mampu menunjukkan kemampuannya dalam humor dan berbicara. Berkaitan dengan yang terakhir ini ada sebuah cerita menarik yang harus diungkap dalam tampilan ini yaitu pada acara pesta besar yang digelar sebelum berpuasa saat berpisah santri yang menyelesaikan studi - dengan menyediakan makanan dan minuman serta membawa semua orang hiburan, seperti: Gamelan , tarian tradisional, kuda lumping, jathilan, dan sebagainya. Tentunya, hiburan yang disebutkan di atas sangat tabu bagi dunia pesantren pada umumnya. Tapi itu ada dan terjadi di Pesantren Tegalrejo. 

Setelah menghabiskan dua tahun di Pesantren Tegalrejo, Gus Dur kembali ke Jombang, dan menginap di Pesantren Pondok Rakit. Saat itu sekitar 20 tahun, sehingga di pesantren pesantrennya, KH Abdul Fatah, dia menjadi ustadz, dan menjadi kepala keamanan. Pada usia 22, Gus Dur berangkat ke tanah suci, untuk melakukan ziarah tersebut, yang kemudian diteruskan ke Mesir untuk terus belajar di Universitas al-Azhar. Pertama tiba di Mesir, dia kecewa tidak masuk Universitas al-Azhar, tapi harus pergi ke Aliyah (sejenis sekolah persiapan). Di sekolah dia bosan, karena dia harus mengulang pokok-pokok yang dia ambil di Indonesia. Untuk menghilangkan kebosanan, 

Ada kondisi yang menguntungkan saat Gus Dur berada di Mesir, di bawah pemerintahan Presiden Gamal Abdul Nasr, seorang nasioonalis yang dinamis, Kairo menjadi zaman keemasan para intelektual. Kebebasan untuk membawa opini memiliki cukup perlindungan. Pada tahun 1966 Gus Dur pindah ke Irak, sebuah negara modern yang memiliki peradaban Islam yang berkembang dengan baik. Di Irak dia masuk Departemen Agama di Universitas Baghdad pada tahun 1970. Selama Baghdad Gus Dur memiliki pengalaman hidup yang berbeda di Mesir. Di kota seribu malam ini Gus Dur telah mendapatkan stimulus intelektual yang belum ditemukan di Mesir. Pada saat yang sama ia kembali berhubungan dengan karya-karya besar sarjana orientalis barat. Dia kembali ke hobinya secara intensif dengan membaca hampir semua buku di Universitas. 

Di luar dunia kampus, Gus Dur rajin mengunjungi makam suci orang-orang kudus, termasuk Syekh Abdul Qadir al-Jailani, pendiri kongregasi Qadiriyah. Ini juga melibatkan ajaran Imam Junaid al-Baghdadi, pendiri gerakan tasawuf yang diikuti oleh para pemuja NU. Di sinilah Gus Dur menemukan sumber spiritualitasnya. Kode politik yang terjadi di Irak, mempengaruhi perkembangan pemikiran politik Gus Dur saat itu. Kekagumannya terhadap kekuatan nasionalisme Arab, khususnya Saddam Husain sebagai salah satu karakternya, menjadi pudar saat syekh mengetahui, Azis Badri terbunuh. 

Setelah belajar di Baghdad Gus Dur bermaksud untuk melanjutkan studinya di Eropa. Tapi persyaratan ketat, terutama dalam bahasa-misalnya dalam studi klasik Kohln, pasti menguasai bahasa bahasa Ibrani, Yunani atau Latin selain Jerman-tidak dapat dipenuhi, akhirnya lakukan adalah melakukan kunjungan dan menjadi mahasiswa keliling, dari satu universitas ke universitas yang lain. Akhirnya dia menetap di Belanda selama enam bulan dan mendirikan Ikatan Mahasiswa Muslim Indonesia dan Indonesia yang tinggal di Eropa. Untuk biaya hidup, dua kali sebulan dia pergi ke pelabuhan untuk bekerja sebagai pembersih kapal tanker. Gus Dur juga pergi ke Universitas McGill di Kanada untuk mempelajari studi Islam secara mendalam. Namun, Ia akhirnya kembali ke Indonesia setelah terinspirasi oleh berita menarik tentang perkembangan dunia pesantren. Perjalanan seputar studi Gus Dur berakhir pada 1971, saat kembali ke Jawa dan mulai memasuki kehidupan barunya, yang juga merupakan perjalanan karir awalnya. 

Namun, semangat belajar Gus Dur tidak surut. Buktinya pada tahun 1979 Gus Dur ditawari untuk belajar di universitas di Australia untuk mendapatkan gelar doktor. Tapi niat baiknya tidak bisa dipenuhi, karena semua promotor tidak mampu, dan menganggap bahwa Gus Dur tidak membutuhkan gelar juara. Bahkan, beberapa disertasi doktor dari Australia dikirim ke Gus Dur untuk diperbaiki, dipandu dan kemudian dipelihara sebelum sesi akademik.

Diatas adalah Biografi KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) merupakan presiden ke 4 indonesia sebagai Bapak pluralisme. Kini ia telah pergi jauh dan tak akan pernah kembali tapi jasa-jasanya akan selalu di ingat dan dikenang rakyat indonesia karena beliau adalah pahlawan bangsa indonesia, sosok seperti beliau tidak akan pernah kita jumpai di zaman sekarang, 

Sumber : http://www.gusdur.net/id/biografi Editing : lacodeid.com

VIEW 18
Tidak ada artikel terkait
150 karakter tersisa. comment


Lacodeid.com
Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore.